DAFTAR ISI

Majalah  Seni Beladiri

DUEL No. 04

Home

PANKRATION, Cikal Bakal Beladiri di Dunia 

ULIN PEUPEUH GERAK RASA 

CHINQUCHI, Teknik Pernapasan dari Okinawa 

GRANDMASTER SOKON ‘BUSHI’ MATSUMURA 

PROFIL 

   Rd. Enny Rukmini Sekarningrat 

   Sukowinadi 

SATRIA NUSANTARA 

TEKNIK BELADIRI

   Ulin Peupeuh Gerak Rasa 

   Teknik Tanding Pencak Silat 

PENCAK SILAT, Jurus Tunggal Baku 

LATIHAN TUI SHOU TAICHI 

KESEHATAN, Peregangan Beladiri 

WUSHU, Jiben Gong & Jibeng Dong Zuo 

PSIKOLOGI BELADIRI 

INFO PENCAK SILAT

   Pendidikan dan Latihan Seni Beladiri DUEL

   Panglawungan Satria Intan Garut 

 

LATIHAN TUI SHOU TAICHI

DENGAN TENAGA KECIL

MENGALAHKAN TENAGA BESAR

Di dalam tui shou taichi dipelajari cara-cara menangkis dengan menggunakan tenaga sekecil-kecilnya tetapi memberikan hasil yang sebesar-besarnya. Setiap tangkisan yang tidak menggunakan cara ini pasti memerlukan tenaga cukup besar, sebagai akibatnya akan menjadi cepat letih karena mengeluarkan tenaga yang tidak efisien.

 

Teori Tangkisan

Melakukan gerak dalam tui shou harus memperhatikan lima pokok cara menangkis yang berhubungan satu sama lain. Hanya oleh ilmu pengetahuan dipisahkan untuk membedakan cara yang satu dengan cara yang lain.

 

1. Meminjam tenaga lawan atau menambah tenaga sendiri pada tenaga serangan lawan yang sejurus.

Maksudnya diusahakan agar jurusan tangkisan sama dengan arah serangan lawan. Bila bertentangan berarti mengeluarkan tenaga besar. Menurut mekanika, tenaga ditambah tenaga yang sejurus memberi hasil yang maksimum. Jadi, tenaga tangkisan yang kita keluarkan ditambah tenaga serangan lawan akan menghasikan akibat yang besar.

2. Mengubah jurusan serangan lawan

Maksudnya setiap serangan lawan yang diarahkan ke badan kita, hendaknya diubah jurusannya misalnya dengan mendorong lengan lawan sehingga pukulannya berubah arah ke luar badan kita.

3. Menangkis pada saat yang benar

Maksudnya semakin terlambat melakukan tangkisan, makin besar tenaga yang diperlukan, maka cara menangkis yang benar adalah pada saat yang belum terlambat. Sebelum lawan mengeluarkan tenaga telah kita tangkis, sehingga tangkisan kita menjadi ringan.

4. Sistem menempel

Maksudnya jika salah satu bagian tubuh kita menempel pada tubuh lawan, maka kita dapat merasakan gerakan yang akan dila-kukan lawan. Dengan demikian kita dapat lebih cepat menyesuaikan diri dan mengikuti jurusan serangan lawan.

5. Mengubah posisi sendiri

Maksudnya jika pihak lawan terlampau kuat, maka ketentuan kedua yakni mengubah jurusan serangan lawan tidak mungkin kita lakukan, maka jalan yang dapat kita tempuh ialah mengubah posisi sendiri sehingga jurusan serangan lawan tidak lagi mengarah ke badan kita. Hal ini dapat dilakukan dengan mengubah kuda-kuda yang satu ke kuda-kuda lain atau lebih banyak terjadi memindahkan letak kaki yang berada di depan ke belakang.

 

Teori Jarak

Setelah memahami cara menangkis, maka teori jarak harus dipelajari dengan seksama agar tangkisan menjadi lebih sempurna, mengingat setelah menangkis kita harus siap untuk melakukan serangan.

Jika kita terkena pukulan lawan, berarti jarak antara kita dan lawan ditinjau dari sudut yang menangkis adalah salah. Sebab jika kita mundur sedikit saja maka serangan tadi tidak akan mengenai sasaran. Teori ini mempelajari jarak yang ideal dalam menghadapi lawan, baik ketika dalam posisi berhenti maupun ketika bergerak pada setiap saat.

Jika menyerang maka kita harus memperkecil jarak dan jika menangkis maka kita harus memperbesar jarak.

 

Teori Sebab dan Akibat

Teori inipun penting diperhatikan sebelum kita melaksanakan tujuan dari tangkisan. Teori ini mempelajari akibat apa yang dapat timbul karena suatu sebab, sedangkan akibat ini akan timbul pada kedua belah pihak, baik pihak penyerang maupun pihak penangkis.

Jika akibat pada pihak penyerang dipandang pula sebagai sebab, maka akan mengakibatkan lagi dua akibat kepada pihak penyerang dan pihak penangkis. Demikian pula bila akibat pada penangkis tadi dipandang sebagai sebab, maka akan terdapat dua akibat juga pada penyerang dan pada penangkis.

Makin banyak kita berlatih, maka kita dapat memperkirakan apa yang akan dilakukan oleh pihak lawan apabila kita melakukan suatu serangan yang menjadi suatu sebab.

Sebelum melaksanakan tujuan tangkisan maka kita harus mempertimbangkan dahulu teori sebab dan akibat ini agar kita waspada terhadap gerakan lawan berikutnya.

Pada kesempatan ini ditampilkan latihan tui shou yang diperagakan oleh Ong Wen Ming bersama muridnya dari Ikatan Keluarga Silat Pro Patria Cabang Denpasar yang beralamat di Komp. Sudirman Agung A-42, Telp. (0361) 241040, Denpasar, Bali. (Graspuzi - disarikan dari "Bertempur dengan Menggunakan Thai Kek Koen" -karya Liem Yoe Kiong) 

 

A (kiri) dan B (kanan) saling berhadapan dengan posisi kedua tangan B menempel tangan kanan A. (foto 1)

A melangkahkan kaki kiri ke depan sambil mendorong B, sementara B mengubah posisi dengan melangkahkan kaki kanan ke belakang. (foto 2)

Untuk memperbesar jarak, B kembali melangkahkan kaki kiri ke belakang sambil menyambut tangan A dari sebelah luar (foto 3)

Setelah dorongan A habis, B segera menekan tangan A ke bawah. Titik berat B berada di kaki belakang. (foto 4)

B melakukan serangan balasan dengan mendorong tangan A ke depan. Titik berat B dipindahkan ke kaki depan. (foto 5)

A membelokkan dorongan B dan selanjutnya kembali melakukan dorongan ke depan (foto 6)

B memindahkan titik berat ke kaki belakang, bersamaan dengan itu menarik tangan kiri A sambil menekan lengan bagian atas. (foto 7)

B melangkahkan kaki kiri ke depan sambil melakukan dorongan, sementara A mengubah posisi dengan melangkahkan kaki kiri ke belakang sambil menyambut tangan B dari arah luar. (foto 8)

Karena B masih dapat mendorong dengan memindahkan titik berat ke depan, maka untuk memunahkannya A segera memindahkan titik berat ke belakang. (foto 9)

B memutar tangan kiri sehingga berada di sebelah luar tangan kanan A, selanjutnya B segera menempelkan telapak tangan kiri pada sikut kanan A. (foto 10)

B kembali melakukan dorongan pada tangan kanan A ke arah depan. Untuk memunahkan dorongan itu, A segera memindahkan titik berat ke kaki belakang. (foto 11)

A segera menyambut tangan B dari arah luar sambil memegang pergelangan tangan kiri B. (foto 12)

A memindahkan titik berat ke kaki belakang, bersamaan dengan itu menarik tangan kiri B sambil menekan lengan bagian atas. (foto 13)