DAFTAR ISI

Majalah  Seni Beladiri

DUEL No. 05

Home

BELADIRI DARI BRAZIL, Gracie Jiujutsu 

KICK BOXING INDONESIA 

MUK YAN JONG 

YI CHIN CHING 

GRANDMASTER KENWA MABUNI 

KUNGFU SHAOLIN DO, Grandmaster Sin Kwang The 

TAPAK SUCI, Jurus Dasar dan Teknik Praktis 

PENCAK SILAT, Jurus Tunggal Baku 

KUNGFU SHAOLIN SHE 

MAENPO PEUPEUHAN ADUNG RAIS, Napel 

BELADIRI KOREA, Berbagai Aliran (Do) 

PSIKOLOGI BELADIRI 

TULISAN PEMBACA, Standardisasi Pencak Silat yang Berlebihan 

INFO BELADIRI,

   Info ringkas 

   Info Karate 

 

Tulisan Pembaca

Oleh : Monu Katili

 

STANDARDISASI PENCAK SILAT YANG BERLEBIHAN

Menyaksikan partai demi partai seluruh pertandingan dalam Kejuaraan Dunia Pencak-Silat 2000 yang sudah berakhir dengan sukses itu, timbul pertanyaan yang perlu mendapat jawaban. Mengingat kami pernah mengajukan adanya Standardisasi Teknik Pencak-Silat agar dapat dipergunakan dalam pertandingan-pertandingan Pencak-Silat pada tulisan-tulisan kami pada era tahun 1982 – 1984 di Harian Sinar Harapan (almarhum).

Mengamati bahwa seluruh perguruan Pencak-Silat yang menjadi anggota Ikatan Pencak Silat Indonesia kini telah dapat melakukan pertandingan secara berkesinambungan kita patut gembira. Namun, di balik kegembiraan yang ada di satu sisi, hati ini tergelitik ketika melihat adanya teknik-teknik yang hilang dari beberapa perguruan Pencak-Silat peserta pertandingan.

Dalam pertandingan yang mengikuti peraturan IPSI / PERSILAT sekarang, ada yang terasa janggal dalam bertanding. Misalnya, dalam penampilan sikap pasang seyogyanya tidak diharuskan/diwajibkan bahwa yang standard itu hanya 8 model/sikap pasang saja. Ada beberapa perguruan Pencak-Silat yang memang permainan perguruannya merendah seperti permainan silat aliran Tjingkrik (atau Cingkrik). Biarkanlah sikap pasang dari perguruan yang ada itu tetap berlaku, tidak hanya yang 8 model yang dibakukan oleh IPSI saja. Akibatnya, hal ini akan mematikan perkembangan perguruan Pencak-Silat itu.

Nampaknya, apabila kita harus memperkenalkan Pencak-Silat ke manca negara melalui tugas PB. IPSI, maka yang diperkenalkan di luar negeri adalah teknik Pencak-Silat Indonesia – teknik Pencak-Silat standar – saja. Padahal, di Indonesia perbendaharaan teknik Pencak-Silat demikian kayanya! Seharusnya, PB. IPSI mengirim tokoh-tokoh atau pelatih aliran yang berkompeten di alirannya untuk turut berkiprah di negara tujuan pengirimannya. Sebagaimana Jepang dengan pelestarian aliran-aliran spesifik bela dirinya itu.

Kalau caranya berlangsung seperti ini, standard melulu, dikhawatirkan perguruan-perguruan Pencak-Silat yang organisasinya kecil akan mati perlahan-lahan. Tengoklah bagaimana perkembangan beladiri Jepang di seluruh dunia. Masing-masing alirannya dapat hidup sendiri-sendiri, contohnya : walaupun sudah ada organisasi Karate se dunia semacam WUKO dan lain-lain, tetapi hal ini tidak mematikan aliran-aliran Karate itu secara individu. Mengapa itu bisa terjadi, karena mereka tetap menjaga kehidupan dan kelestarian aliran asli Karatenya! Cobalah kita amati, aliran Shotokan Karate, Kyokushinkai, Shito-Ryu, Goju-Ryu, dan lain-lain mereka tetap dapat hidup dan memperkembangkan dirinya ke seluruh dunia secara masing-masing. Lihatlah lagi, Shorinji Kempo, Ninjutsu, mereka bisa hidup sendiri terpisah dari aliran beladiri lainnya di Jepang, lalu tengok pula Aikido, Jiu-jitsu, Yudo, Sumo, mereka tetap dapat hidup sendiri masing-masing. Kini kita coba tengok ke perguruan-perguruan/aliran-aliran Pencak-Silat di Indonesia. Aliran-aliran yang memiliki karakteristik khusus seperti Cingkrik dan lain-lain seolah lenyap!

Untung saja, belakangan aliran Cikalong yang hampir tidak kelihatan lagi kini muncul kembali dengan adanya tokoh muda mereka yang berupaya keras tetap melestarikan aliran/perguruan Pencak-Silat Cikalong ini. Kami menyarankan, standardisasi Pencak-Silat yang sudah ada boleh dan sudah baik, namun bebaskanlah perguruan-perguruan Pencak-Silat itu menampilkan ciri khusus perguruan mereka! Standardisasi Pencak-Silat yang kita sarankan dulu bukan untuk dipukul mati sebagai kewajiban yang mutlak harus diikuti. Standard itu misalnya untuk memudahkan penilaian saja, tetapi jangan sampai menghilangkan sama sekali ciri-ciri perguruan itu. Kini apabila kita menyaksikan suatu pertandingan Pencak-Silat kita sudah tidak dapat lagi melihat dari aliran mana permainan sang atlet yang sedang bertanding itu. Teknik yang kita lihat sekarang hanya bisa disebut dengan aliran IPSI saja, tanpa kita tahu asal-usul aliran/perguruannya. Rasanya kekayaan teknik dari masing-masing aliran Pencak-Silat kita menjadi semakin menyusut kalau tidak mau dibilang terEROSI oleh adanya penyeragaman. Standardisasi sih boleh saja, tetapi jangan mematikan kreatifitas para guru besar perguruan/aliran Pencak-Silat yang spesifik tadi. Rasanya kita perlu membantu perguruan/aliran yang kecil tetapi khusus itu dengan mengajarkan cara berorganisasi yang baik, namun seyogyanya kita tidak terlalu jauh mencampuri urusan teknik-tekniknya yang masih asli.

Penulis teringat pada sebuah obrolan dengan salah seorang mantan atlit nasional kita, Sdr. Oong Maryono, menurut beliau :

"Kita (baca : Indonesia) bisa-bisa kayak Tae-Kwondo di Korea. Sekarang ini, teknik- teknik Tae-Kwondo yang diperkenalkan di seluruh dunia adalah teknik Tae Kwondo yang sudah distandardisasi, akibatnya kita sebagai penggemar olahraga beladiri tidak lagi mengetahui bahwa selain teknik-teknik itu ada teknik-teknik khusus dari beberapa aliran/perguruan Tae Kwondo di Korea. Lalu, yang dijual kepada masyarakat penggemar beladiri adalah teknik yang seragam saja. Nampaknya ini pula yang terjadi dengan beladiri nasional kita, Pencak-Silat. Apabila orang awam menyaksikan peragaan Pencak-Silat, maka hanya itulah yang diketahuinya, semua serba seragam, lama-lama agak menjemukan!

Padahal di negara kita yang terdiri dari beberapa propinsi/daerah dan suku bangsa yang demikian kayanya, seharusnya demikian pulalah kekayaan perbendaharaan teknik dari aliran-aliran Pencak Silat di seluruh Indonesia. Teknik-teknik seluruh aliran Pencak-Silat di seluruh Indonesia itu bukan hanya yang dapat kita lihat dalam penampilan teknik IPSI saja. Harus diakui, kita telah berhasil mengumpulkan satu demi satu teknik-teknik yang ada untuk dibakukan atau distandardkan, namun seyogyanya jangan dimutlakkan atau diwajibkan bahwa hanya itulah teknik Pencak-Silat yang ada di Indonesia ini. Bebaskanlah aliran/ perguruan itu menampilkan ciri-ciri khusus alirannya, sehingga pelestarian budaya Pencak-Silat kita dapat berjalan dengan alamiah dan berkesinambungan pada masing-masing aliran maupun perguruannya. Biarkanlah mereka tampil, tetapi pasti orang awam dan orang luar akan tahu bahwa itulah Pencak-Silat kita, Beladiri Nasional Indonesia. Namun, jangan terbalik, seolah Pencak-Silat kita hanyalah apa yang ada di IPSI yang kini kita saksikan!!!

Masing-masing aliran Pencak-Silat yang ada itu, pasti secara selintas membawa nama beladiri nasional Indonesia. Jangan sampai ada aliran baru yang seragam di Indonesia, tapi bukan aliran khusus, kelak ternyata aliran IPSI atau PERSILAT.

IPSI, Ikatan Pencak Silat Indonesia sesuai dengan namanya adalah wadah seluruh perguruan dan aliran Pencak-Silat yang tergabung di dalamnya. Namun, IPSI tidak boleh mengklaim dirinya, bahwa apa yang ada dalam penampilan atau peragaan tekniknya itulah Pencak-Silat Indonesia secara keseluruhan. Apabila ini yang terjadi, maka akan matilah kreatifitas teknik Pencak-Silat dari perguruan-perguruan/aliran-aliran Pencak-Silat dan perlahan tapi pasti perguruan-perguruan/aliran-aliran pencak silat yang kecil akan mati. Pada gilirannya kematian kreasi dan kematian aliran ini akan menyusutkan kekayaan perbendaharaan teknik Pencak-Silat Indonesia yang menjadi beladiri asli nasional Indonesia.

Di sisi lain, IPSI hanya memberi kesempatan segelintir perguruan yang "boleh selalu" tampil dalam peragaan/penampilan di depan masyarakat awam. Seolah-olah perguruan Pencak-Silat yang lainnya tidak boleh tampil, karena tidak memiliki wakil dalam jabatan berpengaruh di dalam IPSI. Jadi seolah-olah hanya perguruan/aliran dari Manager IPSI saja yang boleh menampilkan teknik/jurusnya, perguruan lain walau pun terdaftar dan cukup aktif menjalankan roda organisasinya pun aktif dalam segala kegiatan IPSI tidak perlu ditampilkan. Contohnya dalam penampilan demonstrasi teknik Pencak-Silat Indonesia di hadapan peserta Manca Negara yang mengharapkan penampilan aneka-ragam bentuk Pencak-Silat Indonesia yang nota bene sebagai negara asal Pencak-Silat (selain rumpun Melayu lainnya!) sungguh tidak nampak sama sekali. Kalau pun ada boleh dikata hanya 2 atau 3 perguruan saja yang berkiprah di dalamnya. Apakah Pencak-Silat Indonesia hanya cukup diwakil oleh sedikit perguruan yang wakil-wakilnya punya pengaruh di dalam kepengurusan PB. IPSI atau PENGDA IPSI? Kami teringat pada penampilan/peragaan Pencak-Silat di masa-masa terdahulu, walau pun tidak semua pimpinan perguruan/aliran Pencak-Silat ada wakilnya di dalam kepengurusan PB. IPSI atau PENGDA IPSI. Namun kegotongroyongan atau kerjasama seluruh perguruan yang ada pada saat itu untuk berkiprah membela Pencak-Silat sebagai salah satu pilar budaya Indonesia begitu kuat. Alhasil harmonisasi dari keanekaragaman Pencak-Silat Indonesia termuat penuh di dalamnya! Rasa syukur kita sebagai bangsa yang kaya semakin terasa dengan melihat keanekaragaman teknik maupun gaya Pencak-Silat dari berbagai Aliran maupun Perguruan Pencak-Silat di seluruh Indonesia. Sebandinglah kekayaan budaya dari masing-masing propinsi yang diwakili pula oleh perbendaharaan teknik Pencak-Silat masing-masing daerah di seluruh Indonesia itu.

Kami selaku khalayak beladiri khususnya Pencak-Silat di Indonesia sangat merindukan penampilan / peragaan Pencak-Silat yang terpadu dari seluruh Aliran/Perguruan Pencak-Silat yang ada dan hidup di Indonesia ini. Semoga saja, tulisan ini dapat menghimbau dan menggugah kesadaran kebersamaan secara tulus para penganut beladiri pada umumnya dan Pencak-Silat pada khususnya jadi tidak seperti iklan salah satu produk : Bukan Basa-Basi Yaaah bukan basa-basi, karena Pencak-Silat Indonesia bukanlah milik segelintir Pimpinan IPSI saja, dia bukan milik perorangan maupun perguruan/aliran tertentu saja, melainkan milik kita bersama, milik kalangan beladiri pada umumnya dan milik penganut Pencak-Silat pada khususnya dan yang paling akhir harus diingat Pencak-Silat Indonesia adalah milik Bangsa Indonesia yang besar ini! Semoga ujian terhadap persatuan dan kesatuan bangsa, dapat terjawab melalui otonomi daerah tanpa harus menjadikan Indonesia yang utuh menjadi terpecah-belah. Tidakkah Pencak-Silat merupakan salah satu alat pemersatu bangsa kita seperti Sepak-Bola menjadi pemersatu negara dan bangsa di Brasil.