![]() |
|
![]() |
|
|
Aliran - Perguruan - Teknik - Latihan |
|
DAFTAR ISI Majalah Seni Beladiri DUEL No. 02 KARATE, Yasutsune "Ankoh" Itosu ARTIKEL LEPAS, KAMA - Senjata Karate Okinawa TAEKWONDO, Simbolisasi Hewan pada Hyung PENCAK SILAT, Jurus Tunggal Baku PENCAK SILAT, Tari dan Ibing Pencak Silat BENJANG, Beladiri Tradisional Indonesia WUSHU
|
PADEPOKAN BENJANG MAKALANGAN SEJARAH
SINGKAT DAN PERKEMBANGAN SENI BELADIRI BENJANG
Ada
suatu keistimewaan dalam permainan banjang, disamping mempunyai
teknik-teknik kuncian yang mematikan, benjang mempunyai teknik yang unik
dan cerdik atau pada keadaan tertentu bisa juga dikatakan licik dalam hal
seni beladiri, misalnya dalam teknik mulung yaitu apabila lawan
akan dijatuhkan ke bawah, maka
ketika posisinya di atas, lawan yang di angkat tadi dengan cepat merubah
posisinya dengan cara ngabeulit kaki lawan memancing agar yang
menjatuhkan mengikuti arah yang akan dijatuhkan, sehingga
yang mengangkat posisinya terbalik menjadi di bawah setelah itu
langsung yang diangkat tadi mengunci lawannya sampai tidak berkutik. Menurut
pendapat salah seorang sesepuh benjang yang tinggal di Desa Cibolerang
Cinunuk Bandung, bahwa nama benjang sudah di kenal oleh masyarakat sejak
tahun 1820, tokoh benjang yang terkenal saat itu, antara lain H. Hayat dan
Wiranta. Kemudian ia menjelaskan mengenai asal-usul benjang adalah dari
desa Ciwaru Ujungberung, ada juga yang menyebutkan dari Cibolerang
Cinunuk, ternyata kedua daerah ini sampai sekarang merupakan tempat
berkumpulnya tokoh-tokoh benjang, mereka berusaha
mempertahankan agar benjang tetap ada dan lestari, tokoh benjang
saat ini yang masih ada, antara lain Adung, Adang, Ujang Rukman, Nadi,
Emun, dan masih ada lagi tokoh yang lainnya yang belum sempat penulis
catat. Seperti
kita ketahui bahwa negara kita yang tercinta ini kaya dengan seni budaya
daerah. Ini terbukti masing-masing daerah memiliki kesenian tersendiri
(khas), seperti benjang adalah salah satu seni budaya tradisional Jawa
Barat, khususnya di Kabupaten Bandung dan ternyata di daerah lainpun ada
seni budaya tradisional semacam benjang, seperti di daerah Aceh disebut Gedou
– gedou, di
daerah Tapanuli (Sumut) disebut
Marsurangut, di daerah Rembang disebut Atol,
di daerah Jawa Timur disebut Patol,
di daerah Banjarmasin disebut Bahempas,
di daerah Bugis/Sulsel disebut Sirroto,
dan di daerah Jawa Barat disebut Benjang. Benjang
merupakan suatu bentuk permainan tradisional yang tergolong jenis
pertunjukan rakyat. Permainan tersebut berkembang (hidup) di sekitar
Kecamatan Ujungberung, Cibolerang, dan Cinunuk yang mulanya kesenian ini
berasal dari pondok pesantren, yaitu sejenis kesenian tradisional yang
bernapaskan keagamaan (Islam), dihubungkan dengan religi, benjang dapat
dipakai sebagai media atau alat untuk mendekatkan diri dengan Kholiqnya
sebab sebelum pertunjukan, pemain benjang
selalu melaksanakan tatacara
dengan membaca do’a - do’a agar dalam pertunjukan benjang
tersebut selamat tidak ada gangguan.
Adapun alat yang digunakan dalam benjang terdiri dari Terbang,
Gendang (kendang), Pingprung, Kempring, Kempul, Kecrek, Terompet
(Tarompet), dan dilengkapi pula dengan bedug dan lagu sunda. Dari
pondok pesantren, kesenian ini menyebar ke masyarakat biasanya di
masyarakat diselenggarakan dalam rangka memperingati upacara 40 hari
kelahiran bayi, syukuran panen padi, maulid nabi, upacara khitanan,
perkawinan, dan hiburan lainnya, dan dapat pula mengiringi gerak untuk
dipertontonkan yang disebut “DOGONG”. Dogong
adalah suatu permainan saling mendorong dengan mempergunakan alu (kayu
alat penumbuk padi). Dari Dogong berkembang menjadi “SEREDAN” yang
mempunyai arti permainan saling mendesak tanpa alat, yang kalah
dikeluarkan dari arena (lapangan); kemudian dari Seredan berubah menjadi
adu mundur, ini masih saling mendesak untuk mendesak
lawan dari dalam arena permainan tanpa alat, memdorong lawan dengan
pundak, tidak diperkenankan menggunakan tangan, karena
dalam permainan ini pelanggaran sering terjadi terutama bila pemain
hampir terdesak keluar arena. Dengan seringnya pelanggaran dilakukan maka
permainan adu mundur digantikan oleh permainan adu munding. Permainan
benjang sebenarnya merupakan perkembangan dari adu munding atau adu kerbau
yang lebih mengarah kepada permainan gulat dengan gerakan menghimpit
lawan (piting). Sedangkan pada adu munding
tidak menyerat - menyerat lawan keluar arena melainkan mendorong
dengan cara membungkuk (merangkak) mendesak lawan dengan kepalanya seperti
munding (kerbau) bertarung. Namun gerakan adu mundur, maupun adu munding
tetap menjadi gaya seseorang dalam permainan benjang. Permainan adu
munding dengan menggunakan kepala untuk mendesak lawan, dirasakan sangat
berbahaya, sekarang gaya itu jarang dipakai dalam pertunjukan benjang.
Peserta permainan benjang sampai saat ini baru dimainkan oleh kaum laki-laki terutama remaja
(bujangan), tetapi bagi orang yang berusia lanjutpun diperbolehkan asal
mempunyai keberanian dan hobi. Apabila
kita membandingkan perkembangan benjang zaman dahulu dengan sekarang pada
prinsipnya tidak ada perbedaan yang begitu mencolok, hanya pertandingan
benjang zaman dahulu, apabila pemain benjang masuk ke dalam arena biasanya
suka menampilkan ibingan dengan mengenakan kain sarung sambil diiringi
musik tradisional yang khas, kemudian setelah berhadapan dengan musuh
mereka membuka kain sarung masing-masing, berikut pakaian yang ia pakai di
atas panggung, yang tersisa hanya celana pendek saja menandakan dirinya
bersih, tidak membawa suatu alat (sportif). Setelah itu, penabuh alat-alat
musik benjang dengan penuh semangat membunyikan tabuhannya dengan irama Bamplang
(semacam padungdung dalam irama pencak silat), maka setelah mendengar
musik dimulailah pertandingan benjang, dalam pertandingan ini karena tidak
ada wasit mungkin saja di antara pemain ada yang licik atau curang
sehingga bisa mengakibatkan lawannya cidera. Apabila ada seorang pemain
benjang posisinya sudah berada di bawah pertandingan seharusnya
diberhentikan karena lawannya sudah menyerah. Namun, karena tidak ada yang
memimpin pertandingan (wasit) akhirnya lawan dikunci sampai tidak bisa
mengacungkan tangan yang berarti lawannya bermain curang, apabila pemain
benjang yang curang itu ketahuan oleh pihak yang merasa dirugikan akan
menimbulkan keributan (ricuh) terutama dari penonton, tetapi apabila
pemain benjang itu bertanding dengan bersih dan sportif maka pihak yang
kalah akan menerimanya walaupun mengalami cidera, sebab sebelumnya sudah
mengetahui peraturan pertandingan benjang apabila salah seorang mengalami
cidera tidak akan ada tuntutan. Seorang pemain benjang dinyatakan kalah
setelah berada di bawah dalam posisi terlentang, melihat tanda seperti itu
wasit langsung memberhentikan pertandingan dan lawan yang terlentang tadi dinyatakan kalah (sekarang).
Pertandingan benjang seperti zaman dahulu sudah tidak dilakukan lagi,
sebab sekarang sudah ada wasit yang memimpin pertandingan, dan
dilaksanakan di atas panggung yang memakai alas semacam matras sehingga
tidak begitu membahayakan pemain benjang (tukang benjang). Sedangkan
mengenai teknik dan teori benjang dari zaman dahulu sampai sekarang tetap
sama tidak berubah, teknik dan teori benjang yang biasa dilaksanakan oleh
tukang benjang, antara lain : 1.
Nyentok (hentak) kepala 2.
Ngabeulit a.
Beulit Gigir, b.
Beulit Hareup, c.
Beulit Bakung, 3.
Dobelson 4.
Engkel Mati 5.
Angkat 6.
Dengkekan 7.
Hapsay(ngagebot), dan lain-lain
Dalam
pertunjukan benjang di masyarakat, jumlah anggota kelompok pemain benjang
berkisar antara 20 sampai 25 orang yang terdiri dari satu orang pemimpin
benjang, 9 orang penabuh, dan sisanya sebagai pemain. Inti dalam grup
benjang ini 15 orang yang tediri atas 9 orang
penabuh, 1 pemimpin, 4 pemain, dan 1 wasit. Walaupun
benjang dikatakan sepi tetapi
ada beberapa orang pemain benjang yang mencoba terjun ke dunia olahraga
gulat dan mereka berhasil menjadi juara, di antaranya: 1.
Adang Hakim, tahun 1967 – 1988 asal Desa Cinunuk 2.
Abdul Gani, tahun 1969 – 1970 asal Desa Ciporeat 3.
Emun, tahun 1974 – 1977 asal Desa Cinunuk 4.
Ii, tahun 1978 – 1979 asal
Desa Cinunuk 5.
Taufik Ramdani 1979 – 1988 asal Desa Cinunuk 6.
Asep Burhanudin tahun
2000 asal Desa Cinunuk 7.
Tohidin, tahun 2000 asal Desa Cinunuk kategori anak-anak Ada
pengalaman menarik dari Adang
Hakim, bahwa ia pernah dikeroyok oleh beberapa orang pemuda yang tidak
dikenal, tiba-tiba mereka menyerang mempergunakan pukulan dan tendangan,
Adang Hakim dengan tenang dan penuh percaya diri mampu menyelamatkan diri
dengan mempergunakan teknik bantingan, sehingga pemuda tadi tidak berkutik
dan yang lainnya melarikan diri takut dibanting seperti temannya. Teknik
benjang yang selama ini ia geluti, ternyata bisa digunakan untuk
membeladiri di alam terbuka, bukan hanya di arena pertandingan saja. Oleh
kerena itu seorang pemain benjang harus selalu mendekatkan diri kepada
Tuhan Yang Maha Esa agar diri kita selamat dimanapun berada dan selain itu
pemain benjang harus selalu ingat pada motto benjang yaitu
“jangan sombong dengan kemenangan, dan jangan sedih apabila mengalami
kekalahan”.
Benjang
dan Gulat Penulis
sangat tertarik sekali melihat teknik-teknik beladiri benjang yang hampir
sama dengan gulat, tetapi sebenarnya antara gulat dengan benjang
masing-masing mempunyai persamaan dan perbedaan, dalam gulat waktu
pertandingan dibatas hanya 6 menit, diperbolehkan mengambil kaki lawan
seperti gulat gaya bebas, dalam gulat sebelum bertanding diadakan
penimbangan badan lebih dahulu, dipertandingkan dengan berat badan yang
sama, dan lain sebagainya, gulat sudah mempunyai induk organisasi PGSI,
dan dilaksanakan di atas matras. Sedangkan
dalam pertandingan benjang pelaksanaannya masih bebas, tidak ada
penimbangan badan lebih dahulu asal pemain benjang (Tukang Benjang)
berani menghadapi lawan yang masuk ke arena pertandingan tidak dihiraukan
apakah ia badannya besar, tinggi, pendek, gemuk, dan sebagainya harus
dihadapi, bahkan sebaliknya apabila ia tidak berani menghadapi lawan yang
lebih besar, silakan keluar dari arena pertandingan atau mengundurkan diri
(kalau zaman dahulu arena pertandingannya di atas tanah yang kering dan
keras), dalam benjang tidak diperbolehkan mengambil kaki lawan tetapi
boleh kaki main sama kaki dan tidak ada batas waktu sepanjang pemain
benjang itu fisiknya masih kuat dan mampu mengalahkan lawan ia akan tetap
berdiri di dalam arena pertandingan. Persamaannya
baik dalam benjang maupun gulat dilarang atau tidak diperbolehkan,
mencolok mata, mencekik, menggigit, dan lain sebagainya yang dianggap
membahayakan salah seorang pemain benjang atau gulat. Seni
beladiri tradisional Indonesia yang satu ini ternyata sampai sekarang
masih ada dan tetap eksis, hanya gaungnya tidak seperti seni beladiri lain
misalnya pencak silat atau beladiri asing yang saat ini semakin menjamur
di mana-mana. Walaupun seni beladiri benjang belum mempunyai induk
organisasi yang menjadi wadah penampungan para tokoh-tokoh benjang, tetapi
ternyata sampai saat ini benjang masih hidup dan disenangi oleh masyarakat
terutama masyarakat yang mencintai jenis kesenian tradisional warisan
nenek moyang bangsa Indonesia ini di samping kesenian lain di Indonesia. Sumber
: Padepokan Benjang
Makalangan Sekretariat
: Cibolerang, Cinunuk
Kabupaten
Bandung - Jawa Barat
|